Belis, Mas Kawin a la Maumere

Bagikan Artikel

Pernikahan memang sebuah momen yang begitu sakral. Begitu juga bagi penduduk Sikka-Krowe di Flores yang ingin melangsungkan pernikahan. Ada beberapa tahapan yang harus mereka lewati. Salah satunya adalah pemberian belis atau mas kawin.

Sekilas Tentang Maumere dan Sikka-Krowe

Orang-orang Maumere yang memakai kain tenun

Orang-orang Maumere yang memakai kain tenun. (Sumber : kompas.com)

Maumere adalah sebuah kecamatan dan ibukota Kabupaten Sikka yang terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Sebelum datangnya kekuasaan Hindia-Belanda, Maumere dikenal dengan nama Sikka Alok atau Sikka Kesik. Kemudian pemerintah Hindia-Belanda membuka kantor pemerintahannya di Sikka dan memberi nama-nama daerah baru di sana, seperti Maunori, Mautenda, Mauwaru, Maurole, Mauponggo, Maulo’o dan terakhir Maumere. Ada 6 etnis yang mendiami Kabupaten Sikka, salah satunya adalah Sikka-Krowe yang merupakan etnis terbesar di sana.

Tahapan Persiapan Pernikahan Sikka-Krowe

Sikka adalah nama sebuah desa di pantai selatan Kabupaten Sikka yang dikenal dengan Sikka Natar atau Kampung Sikka, sedangkan Krowe adalah orang pedalaman yang tinggal di Desa Nele di Kabupaten Sikka.

Bagi masyarakat Sikka-Krowe, ada beberapa tahapan sebelum pernikahan harus mereka lewati. Tahap pertama adalah panu aho yang berarti merintis jalan. Di sana, keluarga pihak laki-laki yang disebut tanta/tente atau na’a/a’a dalam bahasa Sikka berhak mencari informasi lebih jauh tentang si perempuan.

Nantinya, tanta akan datang ke rumah orang tua si calon mempelai dan menyampaikan maksud kedatangannya. Jika pano ahu ini berhasil, maka proses pertunangan dapat dilanjutkan. Tapi, perempuan yang bisa dilamar bukanlah perempuan sembarangan, Travel lads.Perempuan yang akan menjadi calon mempelai harus sudah melewati upacara dong werung, yaitu upacara perkenalan kalau perempuan tersebut sudah dewasa dan telah siap menjadi calon istri.

Tahap selanjutnya adalah tung urut linong, yaitu upacara pemberian sisir, cermin, buah-buahan, serta kain kepada pihak perempuan. Pemberian ini menjadi tanda kalau perempuan ini sudah dipinang oleh seorang laki-laki. Jika pemberian pihak laki-laki diterima, maka pihak perempuan juga akan memberi lipa, yaitu sarung laki-laki hasil tenunan sendiri dan lensu nujing, yaitu sapu tangan jahitan sendiri dengan sulaman khusus di bagian pinggirnya.

Pada tahap awal pertunangan ini, ikatan pernikahan belum kuat karena secara adat kedua calon belum terikat secara resmi. Maksudnya di sini, bisa saja di tengah-tengah pertunangan, ada pihak yang membatalkan. Kalau pembatalan berasal dari pihak laki-laki, dia harus memberikan sejumlah bayaran berupa uang dan kuda kepada pihak perempuan. Sebaliknya jika pembatalan dari pihak perempuan, maka sebagai sanksi adat, pihak laki-laki akan diberikan baju dan lipa oleh pihak perempuan. Pemberian semacam ini disebut hok waeng atau pemberian penghapus rasa malu.

Belis dan Peresmian Pernikahan

Gadis Sikka dalam balutan Kimang

Gadis Sikka dalam balutan Kimang. (Sumber : krisdasomerpes.wordpress.com)

Setelah semua tahapan pertunangan berhasil dilewati, maka sampailah kepada saat pemberian belis. Belis atau mas kawin dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan merupakan proses penting dalam pernikahan adat Sikka-Krowe. Pada dasarnya, belis hanyalah sebuah simbol untuk menjaga kehormatan seorang wanita. Ada beberapa tahap juga dalam persiapan pembelisan. Salah satu tahapannya adalah plage wae ara matang, yaitu duduk bersila dan saling berhadapan. Di sini, kedua pihak akan duduk bersama untuk membicarakan besarnya belis pernikahan, termasuk menentukan jenis serta jumlah belis yang diminta atau disebut taser.

Besarnya belis ditentukan dari beberapa hal seperti jenjang pendidikan, kedudukan dalam keluarga, latar belakang keluarga, dan lain-lain. Namun, belis yang diajukan oleh pihak perempuan bisa ditawar oleh perwakilan pihak laki-laki yang disebut delegasi adat hingga mendapatkan kesepakatan. Tanda kesepakatan diakhiri dengan pemotongan babi yang ditikam atau ditusuk.

Setelah penentuan waktu serta tanggal pernikahan telah disepakati, maka kedua pihak akan melakukan persiapan-persiapan menjelang pernikahan. Peresmian pernikahan atau yang disebut lerong kawit diadakan di rumah keluarga perempuan. Kedua pengantin didandani dengan pakaian adat. Selanjutnya, kedua pengantin berdiri di depan pemimpin upacara atau ata pu’an yang akan mengambil sedikit nasi, hati babi dan satu luli moke, sejenis tuak yang sudah didoakan, dan memberikannya kepada pengantin sambil berkata,

“Gea sai, wawi api ara prangang, dena dai wai nora la’i, minu sai, tua jajing, dena dadi lihang nora lalang….”

Makanlah daging dan nasi janji, minumlah moke sumpah ini agar kalian menjadi satu ikatan keluarga. Selesai prosesi tersebut secara adat keduanya telah resmi menjadi sepasang suami-istri.

Hubungan pernikahan yang menyatu ini terlukis dalam ungkapan adat, ea daa ribang nopok, tinu daa koli tokar yang artinya pertalian kekerabatan antara kedua belah pihak akan berlangsung terus-menerus dengan saling memberi dan menerima sampai turun-temurun.

BSD City

Informasi Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD City) dan sekitarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.