Bijak Menyikapi Pertengkaran di Antara Saudara

Pertengkaran di antara saudara lumrah terjadi. Biasanya perselisihan terjadi karena adanya berbagai perbedaan. Namun yang biasa ini harus disikapi dengan luar biasa oleh orang tua. Sikap yang tepat agar menghasilkan dampak yang baik bagi mereka yang terlibat konflik.


Orang tua tidak bisa mendiamkan dan menganggap sebagai kebiasaan antara kakak adik. Sikap tertentu mesti diambil, apalagi bila sudah menunjukkan kekerasan pada fisik. Sikap turut campur juga perlu diterapkan meski pertengkaran hanya berada di ranah perdebatan akan sesuatu.

Mengapa orang tua perlu terlibat? Alasannya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena pentingnya mengenalkan rekonsiliasi konflik pada anak. Terlebih anak mungkin pertama kali bertengkar atau belum tahu caranya mengelola emosi. Sehingga arahan dari orang tua akan menjadi jembatan bagi anak mengambil pelajaran dari konfliknya.

Orang tua juga tak perlu terjebak akan kondisi khusus pada anak. Misalnya menilai anak laki-laki memang gampang terlibat konflik, sang kakak harus selalu mengalah pada anak, anak perempuan lebih penurut, mainan harus diberikan pada adik, dan sebagainya. Anak-anak yang terlibat pada pertengkaran perlu mendapat perlakuan yang setara, berkelanjutan, dan berdampak panjang.

Ambil sikap netral

Ketika menyaksikan pertengkaran di antara anak, seringkali orang tua terburu-buru menyalahkan salah satunya. Padahal yang demikian hanya akan menyudutkan dan tidak menyelesaikan permasalahan. Lebih baik ambil sikap netral. Dengan menanyakan pada masing-masing apa yang terjadi sebenarnya.

AGAR ANAK BISA LELUASA MENJAWAB, TANYAKAN DI TEMPAT YANG TERPISAH. LALU PERTEMUKAN KEMBALI DAN DISKUSIKAN BERSAMA.

Diskusi seperti ini akan membuat anak merasa dihargai dan bisa belajar mengutarakan pendapat. Lain halnya bila langsung disalahkan dan pada akhirnya tidak ada solusi yang tetap.

Batasan main fisik

Jika anak sudah menggunakan kekerasan fisik, ambil tindakan tegas. Lantaran kebiasaan ini bisa terbawa ke lingkungan luar rumah, misal sekolah. Jelaskan bahwa sentuhan fisik saat bertengkar harus dihindari. Hormati saudaranya ketika sudah merasa kesakitan. Gunakan tenaga fisik hanya dalam permainan, itupun dalam batas yang aman.

Kesepakatan bersama atau berdua

Setelah masing-masing dalam keadaan yang lebih tenang, coba ajak membicarakan kesepakatan. Andai mereka sudah bisa ditinggal dan membuat kesepakatan sendiri, hargai itu. Namun bila belum bisa, dampingi. Kesepakatan akan menjadi panduan bila masalah yang sama datang kembali. Anak bakal mengingat konsekuensi yang harus dijalani jika masih mengulangi konflik.

Ajari anak untuk selalu saling memaafkan dan menyayangi satu sama lain

Ajari anak untuk selalu saling memaafkan dan menyayangi satu sama lain (Sumber : pixabay.com)

Ingatkan akan komitmen

INGATKAN AKAN KOMITMEN BILA DIRASA ADA GEJALA-GEJALA MASALAH AKAN TERULANG.

Gunakan bahasa yang ramah, bukan bernada ancaman. Supaya komitmen yang telah dibuat bersama bukan merupakan paksaan, akan tetapi lebih ke arah kesadaran diri sendiri. Di mana keputusan yang dihasilkan perlu dihormati dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Hukuman yang relevan

Bukan tidak mungkin anak tetap akan melanggar. Maka, jangan ragu memberikan hukuman. Tapi tetap yang relevan dengan jenis pelanggaran. Misalnya kakak dan adik tetap berebut mainan, tidak mengindahkan aturan yang telah dibuat. Hukuman yang bisa diterapkan adalah meminta mainan dan mengharuskan keduanya berdiam dulu sampai benar-benar menyadari kesalahannya.

Beri Reaksi Anda & Sebarkan Artikel Ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

www.bsd.city

Media publikasi kawasan Serpong yang meliputi BSD City, Alam Sutera, dan Gading Serpong. Selain itu, kami juga menyajikan informasi gaya hidup masyarakat perkotaan terkini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi !