Lebaran Dengan Tetangga Saat Pandemi

Mudik diperbolehkan secara terbatas. Aktivitas lebaran dalam satu kota juga dibatasi. Akibatnya silaturahmi masih dianjurkan berlangsung virtual. Tapi bagaimana silaturahmi dengan tetangga sendiri?


Sebab pastinya sekarang tetangga sedikit banyak jadi pengganti keluarga. Tempat tinggal berdekatan dan terbentuk ikatan tersendiri. Apalagi punya nasib sama, yakni sama-sama merantau. Setidaknya selama dua kali Ramadhan sejak pandemi ada kebersamaan untuk saling mengisi.

Hingga kemudian Lebaran datang. Pastinya ada rasa atau keinginan untuk tidak membuatnya hambar. Mewujudkan silaturahmi tatap muka untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman. Sekaligus mempererat kembali hubungan sosial di momen besar ini.

Akan tetapi mengingat masih ada ancaman virus berbahaya, ada batasan-batasan yang tak boleh dilanggar. Bagaimana mewujudkan Lebaran yang hangat dengan bersilaturahmi antar tetangga, di samping tetap menggaransi diri sendiri dan keluarga sehat seutuhnya.

Tetap jaga jarak dan pakai masker

Mulai dengan menjunjung tinggi protokol kesehatan. 3M yang perlu dijaga setiap saat, terlebih saat berada diluar rumah. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Laksanakan dengan sebaik-baiknya walau kunjungan silaturahmi hanya di dalam kompleks dan tetangga, yang notabene, kerap bertemu sehari-hari.

Jangan beri kesempatan pada diri untuk melanggar. Kesempatan tertular dapat terjadi kapan saja dan oleh siapa saja. Lebih baik lindungi diri dan orang-orang terdekat ketimbang melanggar sesaat namun berakibat fatal di belakangnya.

Di luar rumah saja

Selain itu, lakukan anjangsana sosial ini di luar rumah saja. Anda dan tetangga, misalnya seusai melaksanakan sholat Ied, dapat bersiap menyambut tamu di depan teras atau pagar masing-masing. Tamu tak perlu masuk ke dalam, rumah aman dari virus mematikan, silaturahmi dapat dijalankan. Tiga fungsi sekaligus dalam sekali waktu.

Ingat pula untuk menghindari sentuhan fisik. Karenanya tindakan bersalaman pada siapapun, termasuk anak-anak maupun pada tokoh setempat yang disegani.

Bingkisan untuk dibawa pulang

Sebab tak usah masuk ke dalam rumah tapi Lebaran identik dengan adanya sajian makanan pada tamu, akali dengan menyiapkan bingkisan yang bisa langsung dibawa pulang. Misalnya beberapa kudapan ringan untuk anak-anak dalam kemasan yang menggemaskan. Di samping membuat tetangga senang, Lebaran jadi tetap semarak oleh suasana kekeluargaan.

Protokol kesehatan saat lebaran bersama tetangga

Protokol kesehatan saat lebaran bersama tetangga (Sumber : pixabay.com)

Hindari kerumunan

Hindari kerumunan. Seperti prinsip 3M tadi, di mana sebaiknya menjaga jarak satu sama lain sangat penting. Lihat kondisi sebelum mendatangi rumah tetangga. Apakah sekiranya cukup lengang atau sudah banyak tetangga lain yang datang. Tunda dan tunggu sejenak hingga perkumpulan antar tetangga kemudian terbilang sepi. Sama halnya dengan saat membuka obrolan. Perkirakan jarak yang aman, contohnya minimal 1,5 meter. Dengan durasi waktu secukupnya saja.

Dalam kondisi sehat

Satu lagi yang mesti diingat selama berlebaran dengan tetangga. Prinsip sehat yang perlu dimasukkan sebagai syarat mutlak. Jangan sampai nekat bertemu dengan tetangga ketika tubuh sedang dilanda sakit. Pasalnya bahaya bukan hanya akan menimpa diri sendiri semata. Tapi juga pada tetangga. Hingga sangat mungkin nantinya muncul klaster baru, buah berlebaran yang mengabaikan protokol kesehatan.

Beri Reaksi Anda & Sebarkan Artikel Ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

www.bsd.city

Media publikasi kawasan Serpong yang meliputi BSD City, Alam Sutera, dan Gading Serpong. Selain itu, kami juga menyajikan informasi gaya hidup masyarakat perkotaan terkini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi !