Mari Mengenal Sejarah Batik Lebih Jauh

Bagikan Artikel
Kilas sejarah Batik

Kilas sejarah Batik. (Sumber : beritagar.id)

Ke manapun kaki kamu menginjak di bumi Indonesia, rasanya sulit untuk tidak mengenal dan bahkan jatuh cinta pada kesenian bersejarah tinggi di negeri ini, yaitu batik. Secarik kain batik penuh dengan corak, warna, dan pesona yang seakan menggelitik rasa ingin tahu tentang kompleksitas yang dikandungnya. Penasaran ingin tahu lebih lanjut mengenai kain kebanggaan Indonesia ini? Simak ulasan seputar Batik hanya di BSD.City.

Sejarah Batik

Batik dipercaya telah eksis di dunia sejak 1.500 tahun silam. Penelusuran peninggalan beberapa sampel kain tekstil dengan menggunakan teknik pola dan pewarnaan juga sebenarnya telah pernah ditemukan pada benua lain, seperti di Mesir, India dan China. Namun, kita boleh berbangga karena sejarah mengukir bahwa seluruh temuan tersebut tidak ada yang sedetail atau serumit seperti yang ditemukan di Pulau Jawa, Indonesia.

Sejarah batik di Indonesia banyak dikaitkan dengan dominasi dari Kerajaan Majapahit bahkan berlanjut pada kerajaan berikutnya hingga masa Kerajaan Mataram, Solo, dan Yogyakarta. Pengaruh kebudayaan Jawa berbaur dengan masuknya Islam juga kurang banyak menorehkan perkembangan batik, termasuk dari segi coraknya. Jika awalnya lukisan batik cenderung berbentuk binatang dan tanaman, lambat laun keindahan alam lainnya, seperti dedaunan, wayang, relief candi, dan lain sebagainya mulai merambah ke dunia batik Indonesia.

Beberapa ahli sejarah meyakini, batik adalah jenis pakaian bertaraf seni tinggi dan hanya digunakan segelintir kaum kerajaan dan keraton. Teknik yang detail serta pengerjaan pada kain tekstil berkualitas tinggi semakin memperkuat dasar penjelasan tersebut.

Namun, seiring pergeseran waktu serta lalu-lalang anggota istana dan keraton yang kembali ke daerah masing- masing di Indonesia, terjadilah perkembangan tren Batik yang ikut menyentuh ke lapisan rakyat jelata. Pada akhir abad ke-18, batik pun semakin berkembang dan meluas penggunaannya kepada masyarakat umum. Kesenian batik lukis semakin digandrungi terutama kaum wanita saat itu, yang memang masih akrab dengan tradisi kesenian dalam rumah tangga yang kental. Kesan bahwa batik adalah pakaian eksklusif yang identik dengan penghuni istana dan keraton mulai memudar. Batik akhirnya berganti status menjadi pakaian umum untuk rakyat awam.

Batik kian mantap menjadi trademark pakaian rakyat Indonesia dibarengi dengan perkembangan emansipasi wanita di negeri kita. Tidak lagi hanya mahir di urusan dapur, wanita Indonesia turut memamerkan keahlian menarikan canting di secarik tekstil untuk dibudidayakan.

Canting merupakan instrumen pembuat batik berbentuk serupa pulpen yang berfungsi untuk memindahkan wax atau bahan tinta mentah ke kain. Biasanya bahan- bahan pewarna ini menggunakan tumbuh- tumbuhan asli Indonesia yang juga dibuat sendiri, antara lain mengkudu, pace, kunyit, soga, dan nila. Beberapa bahan pelengkap lainnya, antara lain soda abu serta tanah lumpur.

Produksi batik yang tercatat sebelum abad ke-20 adalah seluruhnya berupa batik lukis. Batik cap baru mulai mencuat setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920.

Kontroversi dan Penghargaan UNESCO

Berakhirnya Perang Dunia I juga menandakan babak baru batik di Indonesia. Tingginya peminat batik serta usaha konsisten memopulerkan batik terjadi secara berkesinambungan sehingga produktivitas meningkat. Pedagang batik pun semakin bertambah jumlahnya.

Di Jakarta, Tanah Abang menjadi saksi sejarah mencuatnya batik bagi penggemarnya. Batik- batik produksi daerah, seperti Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, dan masih banyak lagi industri daerah lainnya tumpah di pusat Indonesia, yang nantinya disebarluaskan di luar Jawa dan juga di belahan dunia lainnya.

Geliat batik di luar Jawa atau Jakarta juga terdapat di Sumatera, khususnya di Padang, Bengkulu, Riau, Jambi, dan Aceh. Tepatnya satu hal yang paling mendorong popularitas batik hingga menjadi sorotan dunia adalah kontroversi dengan negara tetangga, yaitu Malaysia. Negeri tersebut menyerukan batik adalah salah satu dari budaya khas mereka.

Dari klaim tersebut, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Pemerintah mengambil upaya untuk mengusut dan merunut sejarah batik secara lengkap. Lalu pada tahun 2008, Indonesia resmi mendaftarkan batik ke dalam jajaran daftar representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia UNESCO.

Butuh waktu yang cukup panjang untuk membuat batik sepenuhnya menjadi diakui menjadi milik Indonesia. Setahun setelah pengajuan tersebut, yakni pada 2 Oktober 2009, Indonesia dikukuhkan sebagai pewaris sah batik oleh UNESCO. Tanggal tersebut juga menjadi sejarah yang ditetapkan kini sebagai Hari Batik Nasional. Malaysia pun mengundurkan diri dari deklarasi yang sempat digencarkannya tanpa putus asa.

Bersamaan dengan peresmian bergengsi dari UNESCO, ada seruan nasionalisme, baik dari presiden saat itu yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, supaya masyarakat Indonesia rajin memakai produk budaya sebagai bagian dari aktivitas sehari- hari. Oleh karena itu, tidak heran kalau kamu melihat kini batik bukan lagi dikenakan hanya pada acara resmi, namun juga untuk kegiatan kantor tanpa melihat hari tertentu. Batik bahkan sampai dijadikan bahan untuk pakaian, tas, sepatu, sampai mainan.

Batik di Era Masa Kini

Batik diyakini masih akan terus mendominasi tren fashion di Indonesia tanpa memandang status atau usia pemakainya. Dari segi busana, perancang kelas dunia kian gencar melahirkan kreasi pakaian melalui ajang fashion global, seperti Jakarta Fashion Week 2016 dan pagelaran bertaraf internasional lainnya. Sementara itu, kamu juga disuguhkan kreasi busana dan fashion batik yang terus membeludak di pasaran umum untuk masyarakat kecil.

Tidak berhenti hanya di pakaian, pengrajin Indonesia yang terkenal kreatif juga memunculkan barang- barang berupa tas, sepatu, selop, aksesoris, dompet, dan bahkan benda- benda keseharian seperti agenda dan dekorasi rumah tangga lainnya, misalnya bantal dan hoop art. Semua usaha ini memiliki satu tujuan yang pasti, yakni memantapkan Indonesia sebagai tuan rumah dari fashion etnis yang sejajar dengan negara lain di mata dunia.

Pesona batik yang mendunia pastinya membuat Indonesia semakin bangga atas warisan budaya ini. Di kancah internasional, banyak pula tokoh dunia dan pesohor legendaris yang tidak ikut ketinggalan dalam memakai batik untuk tampil unik dan gaya. Mulai dari petinggi negara, musisi, atlet, selebritim dan peragawati tampaknya ikut terpukau akan kecantikan batik yang tidak ada duanya. Nelson Mandela, Barack Obama, dan Kate Middleton adalah sederet kecil pesohor dunia yang pernah menggunakan batik untuk semakin memperkeren dan memperfcantik penampilan mereka.

Nah, bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu berbatik hari ini? Ayo kenakan batik dalam keseharianmu dan tunjukkan rasa bangga sebagai pemilik resmi dari salah satu warisan budaya Indonesia yang sudah diakui dunia.

BSD City

Informasi Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD City) dan sekitarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.