Mengasuh Anak Pasca Perceraian

Pernikahan boleh kandas akibat perceraian. Tapi masih ada anak yang bisa diselamatkan. Yakni lewat pola asuh untuk menjamin tumbuh kembang dan masa depannya baik-baik saja.


Sebab pada umumnya anak kerap menjadi korban dari perceraian orang tuanya. Dari tidak mendapat sosok orang tua lengkap dan ideal, tidak mendapat sosok panutan akibat salah satu pergi, merasa terabaikan, tidak percaya diri di lingkungan sosialnya, dan sebagainya.

Bahkan tidak jarang, dalam persoalan terkait emosi, anak yang orang tuanya bercerai sering kacau balau mengelolanya. Melampiaskan pada hal-hal yang tak seharusnya. Juga tidak percaya pada hubungan pernikahan maupun lawan jenis.

Karenanya, meski bercerai dan setelahnya bukan persoalan yang mudah dijalani, namun demi anak sebaiknya kedua orang tua tetap ada. Salah satunya melaksanakan co-parenting. Semacam pola asuh pasca perceraian. Bersama-sama meminimalisir dampak perceraian pada sisi mental dan fisik anak.

Selalu hargai perasaan anak

Pertama, jangan mengelak ketika menyadari anak belum bisa menerima perceraian. Biasanya ditunjukkan dengan sedih, marah, kecewa, lebih banyak diam, mengurung diri, atau sikap lainnya. Saat ini yang terjadi, berikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikannya.

Hargai dan terima atas emosi diri mereka. Bukan mengelak, melainkan mendengarkan dan membantunya mencari pelampiasan yang lebih sesuai. Seperti lebih banyak mendengar, tidak meminta anak untuk baik-baik saja, memberikan penjelasan atas apa yang terjadi, serta lain-lain. Terpenting perasaan anak selalu tertampung dan pastikan terkontrol.

Tidak memberi label pada mantan

Sadari untuk tidak melabeli mantan pasangan. Khususnya dengan menambahkan julukan tertentu atau menjelek-jelekkan nama mantan di depan anak sebagai biang keladi perceraian. Sebagai gantinya, ceritakan yang baik atau ambil sisi netral pada diri pasangan.

Dengan demikian, anak tetap menghormati ayah atau ibunya yang sudah tidak tinggal serumah. Cara ini juga lebih memudahkan menerapkan sistem pola asuh bersama.

Perceraian bukan penghalang kasih sayang untuk anak

Perceraian bukan penghalang kasih sayang untuk anak (Sumber : pexels.com)

Kesepakatan akan rutinitas anak

Pihak ayah atau ibu perlu menetapkan rutinitas pada anak. Di mana keduanya mengetahui, sepakat, dan konsisten mendukung satu sama lain. Contohnya jadwal jam tidur, makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, durasi bermain daring, atau sejenisnya.

BERBEKAL RUTINITAS, ANAK JADI PUNYA PEGANGAN UNTUK AKTIVITAS DIRINYA SENDIRI.

Juga tak ada kesempatan untuk berbelok dari kebiasaan sehat bila suatu saat tinggal dengan ayah atau ibu yang sudah tidak lama ditemui.

Tetap satu tim

Demi anak, orang tua tetap harus satu tim. Saling menyokong kebutuhan anak kapan saja. Serta siap menggantikan peran andai salah satu ada yang mengalami halangan. Misalnya hadir di acara-acara penting di sekolah, dan mengajak anak berlibur saat yang lain mesti tetap bekerja. Di samping tetap menjalankan kesepakatan bersama tentang anak dan masa depannya.

Berikan kesempatan bersama

Walau telah bercerai, jangan menghalangi anak bertemu dengan eks pasangan. Semua itu tetap dibutuhkan dalam masa tumbuh kembang anak. Guna memenuhi kebutuhan akan sosok yang selama ini tak hadir setiap hari.

Beri Reaksi Anda & Sebarkan Artikel Ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

www.bsd.city

Media publikasi kawasan Serpong yang meliputi BSD City, Alam Sutera, dan Gading Serpong. Selain itu, kami juga menyajikan informasi gaya hidup masyarakat perkotaan terkini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi !