Nikmatnya Kopi Arabica plus Mentega dari Aceh

Bagikan Artikel

Di Aceh, jumlah warung kopi tak terhitung!

Minuman yang harus dicicipi saat berkunjung ke Aceh adalah kopi racikan warung-warung yang tersebar di seluruh wilayahnya. Berbagai bentuk warung kopi, dari yang sederhana dengan bangunan terbuat kayu hingga ruko-ruko beton seperti layaknya bangunan pertokoan modern, dapat ditemukan di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pokoknya, selama ada penduduk pasti ada warung kopi yang saling berdekatan. Warung kopi yang paling terkenal di Aceh adalah warung Ulee Kareng.

Kopi Aceh terkenal dengan cita rasa yang kuat plus aromanya yang sedap. Warung kopi di Aceh lazimnya memang mengolah sendiri kopi jualan mereka, sejak dari biji sampai penyajian. Walau proses pembuatannya memerlukan dedikasi yang tinggi dari pemilik warung, tapi secangkir kopi hitam di Aceh dihargai sekitar Rp 12.000 saja!

Warung Ulee Kareng

Warung Ulee Kareng. (Sumber : tripadvisor.com)

Berasal dari kopi jenis Arabica, konon kopi Aceh dicampur sedikit mentega dalam prosesnya agar memberikan sensasi rasa yang unik. Pertama-tama biji kopi disangrai dengan api yang tidak terlalu besar, kemudian digiling.

Warung Ulee Kareng. (Sumber : tripadvisor.com)

Untuk memperoleh rasa yang khas, kopi Aceh diseduh langsung dalam air mendidih dan dibiarkan mendidih selama 2-3 menit. Sebelum dituang ke dalam gelas, kopi ditutup rapat-rapat beberapa saat supaya aromanya tidak kemana-mana, tetapi kembali masuk kedalam air kopi. Kopi Aceh ini biasanya dibuat tidak terlalu manis, sehingga terasa sangat pas ditemani kudapan khas Aceh yang serba manis seperti kue sarikaya, kue timpan, dan bolu.

Bagi kamu yang memang lapar bisa juga memesan makanan agak berat seperti: martabak, nasi gurih, nasi goreng, mi Aceh, mi bakso, sate. Untuk makanan berat ini tidak dimasak oleh pemilik warung, tapi disediakan oleh padagang dorongan yang bergabung dengan warung kopi tersebut dengan sistem bagi hasil.

Warung Ulee Kareng

Warung Ulee Kareng. (Sumber : kumparan.com)

Sudah jadi tradisi dari dulu bagi pria-pria Aceh untuk duduk-duduk menyeruput kopi di warung sembari berdiskusi mengenai isu-isu terhangat hingga lobi bisnis. Obrolan di warung kopi juga semacam pengikat solidaritas pada masyarakat Aceh. Jadi, kalau ingin mengenal watak dan budaya orang Aceh, sering-seringlah menikmati kopi di warung saat bertandang ke sana. Warung-warung kopi tradisional biasanya diisi oleh orang-orang tua Aceh, sedangkan anak muda ke kafe-kafe kopi yang sudah pakai wi-fi.

Untuk merasakan nikmatnya kopi yang melegenda, pergilah ke warung kopi “Ulee Kareng” di Jl. T. Iskandar no. 13-14a, Banda Aceh. Warung “Ulee Kareng”(yang artinya “jasa ayah”) sudah buka sejak tahun 1958. Saking enaknya racikan Ulee Kareng, tiap bulan warung ini menghabiskan 1,5 ton biji kopi, yang tentunya disangrai dan digiling sendiri oleh pemilik warung. Beberapa meter sebelum sampai di Ulee Kareng, aroma kopi yang menggoda sudah tercium. Jika kamu sampai di Ulee Kareng dan ternyata tokonya tutup, coba cek jam kamu. Jika dekat dengan waktu solat, artinya pemilik dan pengunjung sedang ke mesjid, sebentar kemudian akan buka lagi, kok.

FAKTA UNIK: Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesar di negeri kepulauan ini. Tanah Aceh menghasilkan sekitar 40 persen biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia.

BSD City

Informasi Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD City) dan sekitarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.