Perhatikan Ini Sebelum Mendaftarkan Anak Ikut Kompetisi

Adakalanya orang tua ingin melihat anak ikut dalam sebuah kompetisi. Lalu berinisiatif untuk mendaftarkan. Tapi jangan buru-buru. Awali dulu dengan beberapa langkah, sebelum nama anak dinyatakan sebagai peserta.


Sebab anak jua yang bakal ikut kompetisi, bukan orang tua. Meski ide dan segala proses sepenuhnya terdapat peran orang tua. Anak perlu dilibatkan untuk memahami semua yang berkorelasi dengan dirinya. Terutama perlunya menjalani kompetisi dengan suka cita. Dan selanjutnya dapat memahami inisiatif orang tua sebagai media belajar bersama.

Memetik manfaat bagi kedua belah pihak dari adanya sebuah kompetisi. Jadi tak semata-mata hanya mewujudkan keinginan orang tua saja. Namun juga berbuah manis bagi anak. Seperti anak dapat mengenal dunia lebih luas dari yang selama ini dikenal, mengetahui berbagai macam karakter dan potensi peserta lain, serta belajar sportif dalam tiap persaingan.

Mengajak, bukan memaksa

Ada baiknya mengawali dengan upaya mengajak. Dan sebaliknya, hindari tindakan memaksa. Bedanya, mengajak lebih ke arah persuasif. Menyampaikan informasi, ada ruang diskusi, juga menempatkan anak sebagai subjek yang perlu dihargai. Sementara memaksa lebih pada sekadar memberitahu saja. Tanpa meminta pandangan anak tentang ide orang tua, dan anak hanya boleh menurut. Tentu dari kedua tindakan tadi akan menunjukkan hasil yang berbeda.

Dari mengajak, mungkin anak sempat menolak. Namun karena orang tua menunjukkan sikap yang lebih bersahabat, pada akhirnya mau. Sedangkan, dari paksaan, nantinya anak tak hanya saja menolak. Tapi juga merasa dipaksa, takut, malu, tidak percaya diri, dan sebagainya.

Jelaskan tujuannya

Seringkali orang tua lupa menjelaskan tujuan dari pentingnya ikut suatu kompetisi. Padahal sangat dibutuhkan anak sebagai dasar mengapa perlu bergabung dan berjuang dalam ajang tersebut. Misalnya untuk mengasah keterampilan anak yang sudah kelihatan, untuk menambah pengalaman, merasakan rasanya kalah atau menang, juga untuk meraih hadiah yang telah lama diidamkan.

Latihan bersama

Luangkan waktu dan ajak anak untuk latihan bersama. Paling tidak jika orang tua tak mempunyai bakat yang sama, minimal hadir untuk menemani. Juga menanyakan bagaimana perasaan anak selama latihan, apa yang kurang dan yang perlu ditambah, serta mental anak. Berdua saling melibatkan diri dan melengkapi.

Kompetisi bisa mengasah jiwa sosial anak

Kompetisi bisa mengasah jiwa sosial anak (Sumber : pixabay.com)

Sesuai bidang anak

Orang tua juga perlu menyadari sesuai tidaknya jenis kompetisi dengan bidang yang dikuasai anak. Jangan sampai hanya karena melihat dari nama penyelenggara lomba, jenis kompetisi yang bergengsi, atau unjuk kemampuan anak di mata rekan-rekan terdekat, malah anak jadi korban. Terlebih tidak menguasai sama sekali bidang yang dilombakan. Seolah sejak awal memang anak harus menghadapi kompetisi yang tidak diinginkan dirinya dan hanya untuk kalah semata.

Hargai setiap proses dan hasilnya

Apapun yang menjadi latar belakang orang tua mendaftarkan anak dalam sebuah kompetisi, selalu hargai setiap proses dan hasilnya. Anggap segala sesuatu yang dilakukan anak sebagai proses belajar menuju tumbuh kembang yang lebih baik. Agar nantinya anak tetap percaya diri akan potensinya.

Beri Reaksi Anda & Sebarkan Artikel Ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

www.bsd.city

Media publikasi kawasan Serpong yang meliputi BSD City, Alam Sutera, dan Gading Serpong. Selain itu, kami juga menyajikan informasi gaya hidup masyarakat perkotaan terkini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi !