Review Baju Adat Madura! Pesa’an dan Kebaya Rancongan!

Bagikan Artikel
Busana adat khas Madura

Busana adat khas Madura. (Sumber : budayanusantara.web.id)

Sudah Tau Baju Adat Madura Seperti apa? apa nama baju yang bergaris – garis merah di Madura? Yuk simak disini ulasan lengkapnya, agar tau dan lebih kenal budaya kita sendiri.

Madura ialah sebuah pulau kecil yang secara geografis terletak di timur laut Pulau Jawa. Luasnya sekitar 5.168 km² dan dihuni oleh penduduk mayoritas suku Madura. Etnis Madura sendiri diketahui memiliki sejarah peradaban cukup maju di masa lalu.

Bukti kemajuan peradaban dan kebudayaan suku ini salah satunya dapat dilihat dari baju adatnya yang penuh nilai filosofis. Ingin tahu nilai filosofis apa saja yang terkandung dalam pakaian adat Madura? Berikut penjelasan selengkapnya.

Baju adat Madura untuk kaum pria

Baju adat Madura untuk kaum pria disebut Pesa’an. Pakaian adat madura ini sebenarnya merupakan baju sederhana, umumnya dikenakan dalam keseharian masyarakat setempat di masa lalu. Mulai dari berladang, melaut, hingga sebagai busana saat menghadiri upacara adat. Penggunaannya pun tak memiliki batasan baik dari segi usia, maupun strata sosial. Baik tua, muda, kaya, maupun miskin boleh mengenakan pakaian ini. Bentuknya yang sederhana juga melambangkan kesederhanaan masyarakat setempat.

Pesa’an merupakan pakaian hitam serba longgar dengan pakaian dalam berupa kaos motif belang merah-hitam atau merah-putih. Motif kaos belang ini pada dasarnya terinspirasi oleh pakaian para pelaut Eropa zaman dulu. Pesa’an umumnya dikombinasikan dengan celana gomboran, yakni celana kain berwarna hitam di mana panjangnya mencapai betis (antara lutut dan mata kaki). Pesa’an umumnya akan dikombinasikan dengan Odheng, yakni semacam penutup kepala sederhana dari balutan kain.

Selain itu, ada beberapa perlengkapan lain yang biasa dipadukan, misalnya:

  • Sarung kotak-kotak
  • Sabuk katemang
  • Tropa atau alas kaki
  • Senjata tradisional berupa celurit

Filosofi di balik Pakaian Adat Madura Pesa’an

Secara filosofis, longgarnya baju adat Madura ini mempunyai makna bahwa etnis Madura merupakan etnis yang menjunjung tinggi kebebasan. Warna dasar hitam melambangkan sikap pantang menyerah dan gagah. Kaos dengan motif belang yang kontras melambangkan bahwa masyarakat suku tersebut adalah masyarakat bermental pejuang, pemberani, tegas, serta memiliki semangat juang yang tinggi dalam menghadapi berbagai masalah.

Penggunaan ikat kepala atau odheng pun sarat akan filosofi. Semakin tegaknya kelopak odheng yang dikenakan, semakin tinggi pula derajat kebangsawanan sang pemakainya. Bagi orang sepuh (tua), umumnya odheng digunakan dengan ujung dipilin, sementara bagi para kawula muda, ujung ikat kepala tersebut dibiarkan tetap terbeber.

Odheng terdiri atas beberapa ukuran dan motif. Berdasarkan ukurannya, odheng terdiri atas dua jenis yakni tongkosan (berukuran kecil) dan peredhan (berukuran besar). Sedangkan jika dilihat dari segi motifnya, terdapat beberapa jenis odheng, anatara lain:

  • Modang
  • Garik atau jingga
  • Dul-cendul
  • Storjan
  • Bere’ songay atau toh biru

Ikatan odheng yang dipakai dalam pakaian adat Madura juga memiliki arti tersendiri. Misalnya pada odheng peredhan, ujung simpul pada bagian belakang dipelintir tegak lurus ke atas, melambangkan huruf alif. Alif merupakan huruf pertama dalam aksara Arab (Hijaiyah). Sedangkan pada odheng tongkosan, simpul pada bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. Keduanya (bentuk simpul odheng) adalah wujud pengakuan atas keesaan Allah SWT, mengingat bahwa masyarakat etnis Madura termasuk masyarakat penganut Islam yang taat.

Khusus untuk para bangsawan, Pesa’an biasanya dikenakan bersama beberapa aksesori, di antaranya:

  • Rasughan totop (sejenis jas tutup berwarna polos)
  • Samper kembeng (kain panjang)
  • Jam saku
  • Sap-osap (sapu tangan)
  • Stagen
  • Jepit kain
  • Sabuk katemang
  • Perhiasan selo’ (seser)
  • Cincin geleng akar (gelang berbahan akar bahar)
  • Arloji rantai
  • Sebum thongket (tongkat)

Baju adat Madura untuk kaum wanita

Seperti halnya busana pria, baju adat Madura untuk kaum wanita pun memiliki motif san desain sederhana. Sebutan untuk pakaian adat madura ini adalah kebaya rancongan dan kebaya tanpa kutu baru. Keduanya biasa dikenakan dengan kombinasi pakaian dalam (bra) berwarna kontras, seperti merah, hijau, atau biru dengan ukurannya ketat di badan. Bahan kain kebaya yang menerawang serta dipadukan dengan bra berwarna kontras membuat para wanita tampil molek.

Kebaya sebagai atasan akan dikombinasikan dengan bawahan berupa sarung batik dengan motif tertentu. Motif sarung yang umum dikenakan misalnya motif storjan, tabiruan, atau lasem. Penggunaan kain sarung dan kebaya juga dikombinasikan dengan stagen Jawa (Odhet), panjang dan lebarnya masing-masing berukuran 1,5 m dan 15 cm diikatkan di bagian perut.

Filosofi di balik Pakaian Adat Madura Kaum Wanita

Penggunaan kebaya tersebut mengandung nilai filosofi bahwa wanita Madura sangat menjunjung tinggi kecantikan serta keindahan bentuk tubuh. Butki lain akan filosofi tersebut yakni bahwa sejak masa remaja, gadis Madura sudah mulai diberi jamu (ramuan tradisional) khusus untuk menunjang kemolekan dan kecantikannya. Cara mengonsumsi jamu tersebut juga disertai berbagai pantangan makanan dan anjuran-anjuran lain seperti penggunaan penggel guna membentuk tubuh padat dan indah.

Dalam pemakaian baju adat Madura ini, kaum wanita biasanya juga akan mengenakan berbagai pernik aksesori untuk riasan kecantikan mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Beberapa aksesori tersebut, di antaranya:

  • Cucuk dinar dan cucuk sisir, yakni hiasan rambut berbahan dasar logam emas yang bentuknya menyerupai busur dengan untaian kepingan koin (uang). Cucuk dinar dan cucuk sisir ditusukkan ke dalam gelungan rambut (konde) yang berbentuk bulat penuh.
  • Leng oleng, yakni penutup kepala yang dibuat dari kain tebal.
  • Shentar penthol atau anteng, yaitu sejenis giwang emas dipakai di telinga.
  • Kalung brondong, merupakan kalung emas dengan rentangan (rantai) berbentuk biji jagung dilengkapi sebuah liontin bermotif bunga matahari atau uang logam.
  • Cincin dan gelang emas bermotif tebu saeres (keratan tebu).
  • Penggel, yakni hiasan pada pergelangan kaki berbahan dasar emas atau perak.
  • Selop tutup sebagai alas kaki.

BSD City

Informasi Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD City) dan sekitarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.