Serunya Ekspedisi Bunker Jepang di Pulau Weh

Selain keindahan alamnya yang sudah dibahas dalam artikel sebelumnya, Pulau Weh punya peninggalan sejarah penting yaitu Bunker Jepang! Kamu bisa berpetualang di sebuah bunker peninggalan Jepang. Apa sih serunya main-main di bunker jaman perang? Hey, bunker Jepang di Pulau Weh ini istimewa lho!


Bunker Jepang yang Penuh Sejarah

Bunker Jepang di Pulau Weh

Bunker Jepang di Pulau Weh (Sumber : pesonaindonesia.kompas.com)

Jika ditengok dari sisi sejarah, Pulau Weh sudah jadi rebutan penjajah sejak dulu kala. Letaknya yang strategis membuat Portugis, Belanda hingga Jepang berlomba-lomba menguasai Sabang untuk mengontrol pelayaran di wilayah Selat Malaka. Posisi Pulau Weh yang terletak tepat di antara Samudera Hindia dan Selat Malaka menjadikan tempat ini pusat pertukaran komoditi dari Eropa, India, dan Timur Tengah dengan pedagang dari Asia Timur.

Pada masa Hindia Belanda, Sabang yang merupakan kota terbesar di Pulau Weh  juga ditetapkan sebagai pelabuhan bebas internasional. Untuk mengantisipasi hal ini, Belanda telah mempersiapkan tata kota Sabang dengan sangat matang. Pembangunan Sabang dimulai dengan dibangunnya instalasi air minum yang disalurkan ke seluruh penjuru pulau. Tak hanya itu, Belanda juga berencana melibatkan dua pulau di sekitar Pulau Weh – yakni Pulo Breuh dan Pulo Nasi – untuk membangun infrastruktur yang saling bersinergi. Puncaknya, pada tahun 1924, Belanda mendirikan Krankzinnigen Gesticht (Rumah Sakit Jiwa) seluas 20 hektar dengan kapasitas 1.200 pasien. Pada masa itu, Krankzinnigen Gesticht  tergolong sangat besar dan modern dibanding rumah sakit lainnya.

Mimpi Belanda untuk membangun Pulau Weh harus pupus ketika Perang Dunia II meletus. Jepang mulai menduduki wilayah nusantara dan menjadikan Sabang sebagai pelabuhan militer dan benteng pertahanan udara. Setelah Jepang bermarkas di Sabang, terjadi kerusakan besar-besaran akibat bom yang dijatuhkan oleh Sekutu. Rentetan ledakan menjadikan Sabang tidak lagi aman untuk aktivitas perdagangan internasional sehingga harus ditutup. Dari sinilah Jepang mulai membangun benteng dan bunker di seluruh penjuru Pulau Weh.

Bunker-bunker Jepang ini diduga  terhubung dengan banyak bangunan militer dan pemerintahan di kota Sabang. Dulunya, militer Jepang sengaja membuat terowongan bawah tanah yang langsung menuju pusat komando di tengah kota. Tidak hanya itu, diduga banyak pintu rahasia yang langsung menuju rumah pribadi atau bangunan lain di Kota Sabang. Kini, jalur bawah tanah bunker Jepang di Pulau Weh sudah banyak yang tertimbun atau memang sengaja ditutup untuk menjaga rahasia militer Jepang.

Bunker Jepang di Pulau Weh Banyak Tersebar di Pantai

Tembok bunker Jepang yang masih berdiri kokoh

Tembok bunker Jepang yang masih berdiri kokoh (Sumber : pikiranmerdeka.co / Riska Munawarah)

Jika kamu berkunjung ke Pulau Weh, terutama Kota Sabang, bunker-bunker Jepang masih dapat dilihat di beberapa lokasi yaitu Sabang Hill, Pantai Anoi Itam, Gunung Sarung Keris, Bate Shok, Gunung Labu, Aneuk Laot, Tapak Gajah dan Ujung Karang.  Salah satu yang paling mudah ditemukan adalah bunker di Pantai Anom dan Desa Cot’Bau.

Dari bunker yang berada di Pantai Anoi Itam, kamu bisa melihat hamparan laut berwarna biru kehijauan yang sangat memukau. Selain laut lepas yang jernih, kamu juga dapat melihat Gunung Seulawah yang menjulang kokoh di kejauhan. Sebagai poin plus, di Pantai Anoi Itam kamu bisa menapakkan kaki di atas  buliran pasir hitam besar yang mengandung nikel 3 kali lebih berat dari pasir hitam lainnya.

Lain lagi dengan bunker di Pantai Sumur Tiga. Nama pantai ini diambil dari lima sumur yang tersebar di sepanjang pantai. Sumur ketiga yang dijadikan nama pantai berasal dari nama bungalow “Santai Sumur Tiga”, atau yang lebih populer dengan sebutan Freddie’s.

Benteng Jepang yang menghadap perairan lepas

Benteng Jepang yang menghadap perairan lepas (Sumber : indonesiakaya.com)

Sayangnya, banyak bunker-bunker Jepang yang kurang terawat di salah satu destinasi favorit Pulau Weh ini. Terdapat banyak corat-coret hasil vandalisme pengunjung sebelumnya. Hal ini sangat disayangkan karena menjaga situs sejarah di sebuah destinasi wisata adalah tanggung jawab setiap pengunjung.  Sedih, kan, kalau nanti anak-cucu kita tidak bisa lagi melihat peninggalan-peninggalan bersejarah karena habis dirusak?

Beri Reaksi Anda & Sebarkan Artikel Ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

www.bsd.city

Media publikasi kawasan Serpong yang meliputi BSD City, Alam Sutera, dan Gading Serpong. Selain itu, kami juga menyajikan informasi gaya hidup masyarakat perkotaan terkini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi !