Wisata Sejarah Kesawan Yang Menawan

Bagikan Artikel

Tak pernah ada kata bosan ketika mengunjungi kota Medan. Tak hanya menyimpan sejuta pesona, seperti panorama alam yang indah, tapi juga kaya kebudayaan karena menjadi melting pot masyarakat berbagai keturunan (mulai dari suku asli Melayu Deli, berbaur dengan suku Karo, Batak Toba, India, Cina, Minang, Aceh, dan Jawa) hingga suguhan kuliner yang menggugah selera! Kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya ini pun menyimpan segudang cerita bersejarah yang diabadikan melalui bangunan-bangunan kuno bergaya Eropa sejak jaman Kolonial Belanda, di sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Kesawan.

Ada Apa di Kesawan?

Para pecinta seni dan bangunan tua bersejarah pasti betah berlama-lama menyusuri kawasan Kesawan, yang terletak di Medan Barat. Bangunan-bangunan tua hasil peninggalan jaman Kolonial Belanda di sepanjang kawasan ini memang masih dipertahankan hingga sekarang. Meski beberapa tak lagi terawat, kawasan yang menjadi saksi sejarah kota Medan ini tetap menyimpan romantisme tersendiri.

Beberapa diantaranya bahkan masih digunakan sebagai tempat tinggal, gedung perkantoran, tempat makan, serta butik. Yang menarik, mayoritas masih menampilkan tahun bangunan tersebut berdiri, persis seperti bangunan-bangunan yang ada di kota-kota di Eropa Barat!

Berikut beberapa obyek wisata menarik di sekitar Kesawan, yang terdapat di jalan tertua di Medan, Jalan Jenderal Ahmad Yani (dahulu Jalan Kesawan):

1. Gedung Lonsum (London Sumatra)

Gedung Lonsum dan Gerbang Kesawan

Gedung Lonsum dan Gerbang Kesawan. (Sumber : medancitytour.blogspot.com)

Gedung yang terletak di kawasan pusat kota ini adalah salah satu peninggalan zaman kolonial yang hingga kini masih berdiri. Awalnya, pada tahun 1906, gedung berarsitektur “Indische Empire” yang menjadi tren pada abad 18-19 ini dibangun untuk menjadi kantor dari perusahaan perkebunan milik Harrisons & Crossfield Plc, berbasis di London. Sampai sekarang, gedung yang dijadikan cagar budaya ini masih digunakan sebagai kantor pusat perusahaan yang kini bernama PT PP London Sumatera Indonesia.

Penasaran dengan gedung lainnya yang memiliki nilai historis dan corak seni arsitektur tempo dulu? Coba tengok sekeliling, Anda juga bisa menemukan:

  • Kantor Pos Besar Medan, yang dari tahun 1911 hingga saat ini masih beroperasi.
  • Gedung Jakarta Lloyd, dahulu kantor perusahaan pelayaran The Netherlands Shipping Company.
  • Gedung Bank Indonesia, dahulu kantor Javasche Bank.
  • Hotel Natour Dharma Deli, dahulu bernama Hotel Mijn De Boer, yang merupakan peninggalan jaman kolonial dan dihuni oleh tamu-tamu kehormatan pemerintah Belanda serta artis-artis barat terkenal.
  • Jembatan Titi Gantung, yang dibangun pada tahun 1885 sebagai jembatan penyeberangan dari kawasan Kesawan menuju Jalan Jawa dan tempat berdagang buku bekas. Kini menjadi objek wisata masyarakat Medan sambil melihat kereta api.

2. Tjong A Fie Mansion

Rumah milik Tjong A Fie dengan gerbang bertembok tinggi kuning lembut yang dilengkapi sepasang kaligrafi besar di kanan-kirinya, beraksen kayu, serta beratap khas bangunan Cina ini menjadi sangat kontras diantara deretan ruko-ruko yang dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Rumah megah milik saudagar terkenal dari Cina yang telah berusia ratusan tahun dan terdiri atas 35 ruangan ini juga dijadikan cagar budaya. Uniknya, tak hanya kental dengan arsitektur bergaya khas Cina saja, rumah ini juga memasukkan unsur budaya Eropa pada pilar dan jeruji khas budaya Melayu. Dengan bantuan guide, Anda akan diajak berkeliling menyaksikan tata ruang yang otentik, sampai barang-barang asli peninggalan keluarga Tjong A Fie, seperti perabotan antik, koleksi keramik Cina kuno, dan koleksi baju asli mendiang Nyonya Tjong A Fie yang dihiasi manik-manik cantik.

3. Mesjid Gang Bengkok

Arsitektur bangunan mesjid yang didirikan sekitar tahun 1900 di ini sangat mirip dengan klenteng, tempat beribadah umat Khonghucu. Beberapa bagian bangunannya, seperti atap yang melengkung, pilar penopang, dan patung hiasan khas arsitektur Cina. Konon seluruh biaya pembangunan mesjid seluas 2.200 meter persegi ini dilakukan oleh Tjong A Fie, sebagai penghormatan masyarakat Tionghoa kepada masyarakat Melayu di Medan.

4. Restoran Tip Top

Restoran Tip Top yang sangat legendaris di Medan

Restoran Tip Top yang sangat legendaris di Medan. (Sumber : airyrooms.com)

Restoran yang berdiri sejak tahun 1934 dan termasuk salah satu restoran tertua di kota Medan ini wajib Anda kunjungi setelah lelah berkeliling. Hanya 20 meter dari Tjong A Fie Mansion, bangunan, suasana, dan interior khas rumah Belanda, seperti taplak meja kotak-kotak, meja bulat agak pendek, bangku setengah lingkaran dari kayu dan rotan masih dipertahankan dari sejak pertama berdiri hingga sekarang. Tip Top, dari bahasa Belanda yang artinya “kualitas prima” ini menyajikan beraneka ragam menu makanan khas Belanda, seperti Huzaren Salad, Bitterballen, Tounge Steak, Wienner Scintzel, yang dipadukan dengan masakan khas Cina dan Indonesia. Selesai bersantap, kue-kue tarcis dan cake yang dipanggang di tungku dengan kayu bakar pun siap menemani sore Anda sambil menyeruput secangkir kopi robusta dari Sidikalang. Jangan lupa juga suguhan penutup es krim, dengan kisaran harga Rp9.000-Rp15.000, yang menjadi ciri khas restoran ini.

5. Toko Asli, Pusat Souvenir Antik

Pusat souvenir yang jadi perintis toko barang antik di Medan ini terletak sekitar 500 meter dari rumah Tjong A Fie. Sebelum mendirikan usaha ini pada tahun 1963, sang pemilik, H. Asli dan Hj. Nurhayati memang kolektor barang-barang antik. Makanya, selain menjual souvenir seperti rantai dan tasbih dari manik-manik dan batu alam berbagai warna, serta kain tenun tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, jangan terkejut jika Anda disuguhkan ribuan koleksi keduanya berupa koin antik, aneka lukisan lama dan baru, ukiran, patung, gramophone, radio, porselen Cina dari jaman Dinasti Ming dan Cing, lampu gantung, partisi, sepeda motor antik, sampai jam antik raksasa berusia ratusan tahun asal Inggris seharga Rp1,2 milyar, yang merupakan benda antik termahal di toko tersebut.

Ternyata, selain panorama alamnya yang aduhai, di Medan terdapat peninggalan sejarah tak ternilai yang bisa kita kunjungi.

BSD City

Informasi Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD City) dan sekitarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.