Yang Khas dari Solo

SOLO, what is on your mind when you hear that name? Are you wondering?


Solo atau ditulis Sala, adalah kota di provinsi Jawa Tengah dengan berpenduduk 578,49 ribu jiwa (data tahun 2021).

Kota dengan luas 44 km2 ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Sukoharjo. Sisi timur kota ini dialiri Sungai Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Solo merupakan pewaris Kerajaan Mataram yang dipecah pada tahun 1755.

Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta berada di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus otonom.

Museum Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo

Museum Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo (Sumber : pariwisatasolo.surakarta.go.id)

Kota Solo mungkin tergolong langka saat ini, karena merupakan sebuah kota modern yang masih apik tertata dengan memiliki 50% jalur hijau. Di sini, kita masih bisa naik becak ke mana-mana. Tukang becak yang ada di Solo memiliki ciri khas dengan cat batiknya di bagian samping kanan dan kiri masing-masing becak.

Memang sesuai dengan semboyannya Solo Berseri, akronim dari “Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah”, sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Solo mengambil slogan pariwisata Solo, The Spirit of Java (Jiwanya Jawa) sebagai upaya pencitraan kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Warung Timlo Sastro, Solo

Warung Timlo Sastro, Solo (Sumber : wikimapia.org)

Setelah ditelusuri, ternyata banyak sekali jenis kuliner di Solo, dari lauk, makanan basah (ingat kan dengan serabi Solo?), makanan kering dan berbagai jenis minuman tradisional. Salah satunya, wedang asli solo yang rasanya sangat khas. Enak!

Bahkan beberapa juga yang hilang atau ditinggalkan sesuai atau disesuaikan oleh jamannya. Dengan keberadaan Kraton Kasunanan dan Kraton Mangkunegaran, yang notabene menjadi pusat kebudayaan Jawa, sedikit banyak memberi kontribusi terpeliharanya adat istiadat, termasuk di dalamnya, cara pengolahan makanan.

Untuk wiskul (wisata-kuliner) di siang hari bisa pilih : Timlo Sastro Pasar Gede, Warung Selat Mbak Lis, Dawet Telasih Bu Dermi, dan Roti Orion. Sementara kuliner malamnya : Nasi Liwet Mbak Yanti Purwosari, Galabo, Ayam Goreng Wong Solo, hingga Gudeg Ceker Margoyudan (buka tiap hari dari jam 01.30–07.00 WIB).

Pasar Harjonagoro, Pasar Tertua Di Kota Solo

Pasar Harjonagoro, Pasar Tertua Di Kota Solo (Sumber : surakarta.go.id)

Perdagangan di Solo juga berjalan lancar. Komoditas utama yaitu batik. Batik yang sudah menjadi ikon Solo ini terkenal hingga ke Australia, Jerman, serta Belgia.  Batik Solo punya ciri pengolahan yang, lagi-lagi, khas. Yakni warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap.

Setiap tahunnya Solo juga mengadakan Karnaval Batik Solo dan mulai tahun 2010 pemerintah kota Solo mengoperasikan bus yang bercorak batik bernama Batik Solo Trans. Tempat wisata maupun pasar budaya terbaru di Solo adalah Ngarsopuro. Menyajikan berbagai jenis kerajinan tangan khas Solo.

Beri Reaksi Anda & Sebarkan Artikel Ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

www.bsd.city

Media publikasi kawasan Serpong yang meliputi BSD City, Alam Sutera, dan Gading Serpong. Selain itu, kami juga menyajikan informasi gaya hidup masyarakat perkotaan terkini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi !